Pertarungan Popularitas dan Ujian Politik PKB

Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah Jawa Timur secara langsung, 23 Juli nanti, akan menjadi ajang pertarungan popularitas calon sekaligus pertaruhan Partai Kebangkitan Bangsa sebagai partai politik dominan di provinsi berpenduduk 38 juta jiwa itu.

Dominasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jatim terlihat dalam dua kali pemilu era Reformasi. Di Pemilu 1999, PKB menguasai provinsi ini dengan mengumpulkan 35,5 persen suara, diikuti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan 33,8 persen dan Partai Golkar 12,7 persen. Komposisi tiga parpol peraih suara terbanyak ini terulang kembali pada Pemilu 2004. PKB meraih 30,5 persen suara, PDI-P 21 persen, dan Partai Golkar berhasil mendulang 13,2 persen suara.

Tiga partai politik ini pun mengusung pasangan calon pada Pilkada Jatim tanpa berkoalisi dengan partai politik lain. PKB mengusung pasangan Achmady-Suhartono (Achsan), PDI-P mengusung pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR), dan Partai Golkar mengusung pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam). Selain itu, muncul dua pasangan calon yang diusung gabungan atau koalisi parpol. Koalisi Partai Amanat Nasional dan Partai Demokrat mengusung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) yang kemudian didukung pula oleh Partai Keadilan Sejahtera. Koalisi Partai Persatuan Pembangunan, Partai Damai Sejahtera, dan 10 parpol nonparlemen mengusung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji).

Sebagai parpol dominan di Jatim, PKB termasuk parpol paling akhir yang resmi menetapkan pasangan calon pada Pilkada Jatim, padahal secara internal PKB termasuk parpol yang mengawali proses penjaringan nama-nama calon gubernur dan wakil gubernur Jatim.

Banyak pihak menilai langkah PKB pada pilkada kali ini sangat berat. Konflik internal parpol yang melahirkan dualisme kepengurusan PKB sedikit banyak memengaruhi gerak politiknya.

Selain konflik internal, beberapa nama tokoh NU yang muncul sebagai calon pada Pilkada Jatim sedikit banyak berpotensi memecah suara pemilih nahdliyin yang notabene lumbung suara terbesar PKB di Jatim.

Beberapa nama tokoh NU yang muncul adalah Ali Maschan Moesa (mantan Ketua PWNU Jatim), Saifullah Yusuf (Ketua GP Ansor), dan Khofifah Indar Parawansa (Ketua PP Muslimat NU). Bisa ditebak, perebutan simpati pemilih dari warga NU akan menjadi pertarungan dari ketiga nama itu. Sementara nama Achmady, meskipun dicalonkan PKB, lebih banyak dikenal sebagai birokrat dibandingkan sebagai tokoh NU.

Pertarungan popularitas tokoh NU ini akan banyak terjadi di wilayah kantong-kantong NU dan sebagian besar memang menjadi wilayah kemenangan PKB, baik pada pemilu maupun pilkada. Wilayah tapal kuda seperti di Madura, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi akan menjadi wilayah pertarungan ketiga tokoh NU tersebut.

Di beberapa daerah tersebut dominasi PKB sebagai partai politik yang notabene lahir dari warga NU cukup besar. Hal ini terlihat dari kemenangan calon yang diusung PKB pada pilkada Bangkalan, Sidoarjo, Kota Pasuruan, Probolinggo, dan Jember.

Selain Madura dan wilayah Pandalungan (wilayah Jawa Timur yang dominan dipengaruhi etnis Madura), pengaruh PKB juga terlihat di wilayah Arek, sebuah wilayah yang menurut budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto, tidak memiliki keterikatan kuat dengan budaya dominan, baik budaya Jawa maupun budaya Madura.

Di wilayah Arek ini kemenangan PKB berada di wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto yang merupakan daerah basis bagi Achmady. Calon gubernur dari PKB ini adalah Bupati Mojokerto periode 2005-2010 yang mengundurkan diri Juni lalu untuk maju pada pemilihan gubernur. Pada Pilkada Mojokerto tahun 2005, Achmady diusung PKB dengan meraih suara 87,3 persen.

Wilayah Arek sendiri meliputi Malang, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya yang relatif terbuka dan dinamis. Pada Pemilu 1955, wilayah ini menjadi dominasi Partai NU. Pada pemilu era Orde Baru, Partai Golkar mengambil alih. Selanjutnya pada era Reformasi, PDI-P berhasil menguasai wilayah ini pada Pemilu 1999. Terakhir, pada Pemilu 2004, PKB berhasil mengambil alih sebagian wilayah yang sebelumnya dikuasai PDI-P. Tidak heran di wilayah ini popularitas Achmady akan berhadapan dengan empat calon lain yang akan menggarap wilayah Arek ini.

Jika wilayah Pandalungan dan Tapal Kuda lebih banyak menjadi lahan parpol ”hijau” dan wilayah Arek menjadi pertarungan antara parpol ”hijau” dan nasionalis, wilayah Mataraman (bagian barat Jawa Timur yang orientasi budayanya lebih dekat ke Keraton Yogyakarta dan Solo) akan berpotensi menjadi medan pertarungan popularitas calon-calon gubernur yang berlatar belakang nasionalis.

Soenarjo, Soekarwo, dan Sutjipto tercatat secara sosiologis berasal dari wilayah Mataraman. Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Priyatmoko, menilai ketiganya memiliki ketersinggungan secara politis di wilayah ini.

Perang popularitas tiga nama calon gubernur di wilayah Mataraman ini tentu akan melibatkan mesin politik dari parpol pengusung. Potret geopolitik di wilayah ini menunjukkan Sutjipto memiliki peluang meraih simpati. Hal ini tidak lepas dari sebagian besar kabupaten/kota di wilayah Mataraman dimenangi PDI-P pada Pemilu 2004.

Selain itu, beberapa pilkada di wilayah tersebut juga dimenangi pasangan calon dari PDI-P, seperti pilkada Kabupaten Kediri, Kota dan Kabupaten Blitar, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, dan Magetan.

Pasangan SR termasuk satu-satunya pasangan calon yang sama-sama berlatar belakang nasionalis dibandingkan empat pasangan calon lainnya. Calon wakil gubernur yang mendampingi Sutjipto, Ridwan Hisjam, tercatat sebagai kader Partai Golkar dan mantan Ketua DPD Partai Golkar Jatim. Sedikit banyak pasangan ini berpeluang menyatukan pemilih nasionalis yang loyal.

Namun, pengalaman pada 30 pilkada yang sudah digelar di Jatim menunjukkan tidak ada jaminan parpol besar otomatis memenangi pilkada di wilayah tertentu.

Selain Sutjipto yang berharap besar di wilayah Mataraman, Soekarwo juga berharap mendulang suara di wilayah ini. Dalam deklarasi pasangan Karsa di Surabaya, 11 Februari lalu, Soekarwo menargetkan suara 60-65 persen di wilayah Mataraman, seperti di Pacitan, Kediri, Bojonegoro, Ponorogo, Tulungagung, dan Blitar.

Soenarjo yang juga seorang dalang juga berharap suara dari wilayah ini. Tradisi wayang masih kuat di masyarakat Mataraman.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: