Diduga Ikut Kudeta, Dua Jenderal Ditahan

Kepolisian Turki menahan 21 anggota kelompok garis keras sekuler ultranasionalis dan dua pensiunan jenderal karena diduga terlibat dalam upaya kudeta untuk menggulingkan pemerintah. Dua jenderal itu adalah Hursuit Tolon dan Sener Eruygur.

Jenderal-jenderal senior Turki, Rabu (2/7), mengimbau agar publik tidak resah. ”Turki saat ini tengah mengalami masa sulit. Kita harus bertindak bijaksana, berhati-hati, dan bertanggung jawab,” kata Komandan Pasukan Angkatan Darat Turki Jenderal Ilker Basbug.

Kelompok ultranasionalis itu diduga tengah menyusun rencana peledakan bom dan pembunuhan yang akan memicu kudeta. Akibat penangkapan kedua jenderal itu, ketegangan antara Perdana Menteri Tayyip Erdogan dan pembela prinsip-prinsip sekuler Turki meluas.

”Bukan Partai AK yang tidak bisa mereka terima, mereka tak bisa menerima demokrasi, aspirasi nasional, perasaan, dan pemikiran rakyat,” kata Erdogan yang berasal dari Partai AK.

Penahanan kedua jenderal itu mengagetkan rakyat Turki. Polisi juga menahan editor harian Cumhuriyet, politikus, dan Ketua Kamar Dagang Ankara Sinan Aygun. Para tokoh itu selama ini kerap mengkritik tajam partai berkuasa pimpinan Erdogan, Partai Pembangunan dan Keadilan atau kerap disebut Partai AK.

Para pengamat politik menilai, Ergenekon adalah bagian dari kelompok garis keras nasionalis dalam militer dan pemerintahan Turki. Kelompok ini siap memperjuangkan agenda tersendiri, termasuk mendorong sekularisme di Turki. Lebih dari 40 orang, termasuk pensiunan jenderal, pengacara, dan politikus, ditahan dalam beberapa tahun terakhir karena diduga memiliki hubungan dengan Ergenekon.

Negara Islam

Upaya kudeta bukan hal yang aneh di Turki. Militer pernah mendepak empat pemerintahan dalam waktu 50 tahun terakhir. Kudeta paling akhir adalah tahun 1997. Kelompok pendukung pemerintah sekuler, termasuk para jenderal dan hakim, menuding Partai AK menyimpan agenda tersembunyi, yakni menjadikan Turki sebagai negara Islam.

Partai AK yang memenangi pemilu untuk kedua kalinya itu menyatakan tuduhan tersebut tidak benar dan bermotifkan politik. Militer selama ini menilai dirinya ”penjaga” sistem sekuler peninggalan Mustafa Kemal Ataturk, pejabat militer pada zaman Perang Dunia I yang menemukan Turki setelah tumbangnya Kerajaan Ottoman. Ataturk itulah yang memberikan hak memilih kepada wanita.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: