Beruntun Kalah, Akbar dan Sultan Kecewa

Sejumlah tokoh senior Partai Golkar mengaku kecewa dan menyesalkan kekalahan beruntun partai berlambang beringin itu dalam lima Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) provinsi terakhir.

Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung adalah salah satu tokoh yang sangat kecewa atas kekalahan berturut-turut partai pemenang pemilu 2004 ini. “DPP Golkar perlu segera melakukan evaluasi internal tentang kebijakan dan strategi yang keliru sehingga kita gagal di Pilkada Sulsel, Jabar, Sumut, NTT, dan Jateng,” kata kata Akbar kepada Antara di Jakarta, Senin (23/6).

Akbar juga menyoroti peran lembaga pemenangan pemilu, eksistensi koordinator wilayah (korwil) dan pola rekrutmen calon kepala daerah. “Harus ada pertanggungjawaban moral dan organisatoris setelah melihat kegagalan demi kegagalan tersebut,” tegas mantan Ketua DPR ini.

Dia berharap, Partai Golkar dapat menyusun kembali suatu “produk” yang akan “dijual” untuk menggalang calon pemilih bagi pemenangan Pemilu Legislatif 2009

“Tanpa produk atau jualan yang konkret, saya khawatir target 2009 (30 persen suara) meleset,” ujarnya.

Wakil Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan kekalahan pasangan calon gubernur/wakil gubernur (cagub/cawagub) pada Pilkada Jawa Tengah (Jateng) yang diusung Partai Golkar bukan semata-mata kesalahan dari ketua umum partai ini, melainkan cenderung di tangan pengurus Partai Golkar di daerah yang mengajukan calon tersebut.

“Jadi, calon peserta pilkada itu menjadi urusan pengurus partai Golkar di daerah, meskipun pusat memang punya andil untuk menyetujui calon tersebut,” kata Sultan.

Menurut dia, kekalahan calon dari partai Golkar menunjukkan ketidaktepatan dalam memilih figur karena dalam pilkada masyarakat memilih dan mencoblos figur, bukan lambang partai.

Dengan demikian, yang dominan memang figur bukan partainya meskipun figur itu diusung oleh partai tapi yang berperan adalah kredibilitas figur yang diusung partai.

Menurut dia, jika partai Golkar terus menerus tidak tepat dalam memilih figur calon kepala daerah, dikhawatirkan Golkar dapat terancam kekalahan dalam pilpres.
Figur Buruk

Sekjen DPP Partai Golkar Sumarsono mengatakan kekalahan pasangan calon gubernur Bambang Sadono-M Adnan yang diusung oleh Partai Golkar disebabkan oleh figur. Faktor lainnya adalah kurang optimalnya penggalangan dan pemenangan oleh mesin partai.

“Faktor figur sangat menentukan dalam pilkada. Bahkan, 50 hingga 60 persen kemenangan ditentukan oleh figur. Sementara, mesin partai hanya 10-15 persen,” ujar Sumarsono.

Sementara Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso menyatakan bawah Golkar menghormati apa pun hasil pilkada. Kalah atau menang menurutnya adalah satu hal yang biasa dalam demokrasi dan hal itu bukan merupakan satu hal yang akan membuat Golkar panik. Priyo sendiri menyatakan bahwa meskipun Golkar kalah dalam beberapa pilkada namun secara nasional Golkar masih tinggi yaitu 41,2 persen.

“Memang untuk pilkada selama ini segala urusannya total diberikan ke daerah, karena kami di DPP lebih fokus untuk pileg,” ujar Priyo.

Ketika ditanyakan kemungkinan kekalahan Golkar karena salah satu faktornya Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla tidak ikut mensukseskan seluruh kader Golkar yang maju dalam pilkada, Priyo mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena posisi JK yang wakil presiden sehingga jika JK turun nanti bisa disalahkan juga.

“Memang JK tidak turun karena dia wakil presiden namun Agung Laksono kan turun. Megawati sendiri juga tidak turun ketika dia menjadi presiden,” tegas Priyo.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: